Transistor

 

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas materi Transistor. Semoga bermanfaat

A. Pengertian Transistor

    Transistor merupakan komponen elektronik aktif semikonduktor yang memiliki berbagai macam fungsi seperti sebagai penguat tegangan dan daya, stabilisasi tegangan, penyearah, osilator, modulator dan lain sebagainya. Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (C). Jumlah transistor dari waktu ke waktu semakin lama semakin meningkat. Bisa dibilang, transistor merupakan salah satu komponen elektronik yang paling banyak digunakan dalam rangkaian elektronik. Hampir semua perangkat elektronik menggunakan transistor untuk berbagai kebutuhan dalam rangkaiannya. Perangkat-perangkat elektronik yang dimaksud tersebut contohnya adalah televisi, komputer, ponsel, audio amplifier, audio player, video player, konsol game, power supply dan lain-lain

    Transistor pertama kali ditemukan oleh tiga orang fisikawan yang berasal Amerika Serikat pada akhir tahun 1947 adalah Transistor jenis Bipolar. Mereka adalah John Bardeen, Walter Brattain dan William Shockley. Dengan penemuan tersebut, perangkat-perangkat elektronik yang pada saat itu berukuran besar dapat dirancang dalam kemasan yang lebih kecil dan portabel (dapat dibawa kemana-mana). Ketiga fisikawan tersebut mendapatkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1956 atas penemuan Transistor ini. Namun, sebelum ketiga fisikawan Amerika Serikat tersebut menemukan Transistor Bipolar, seorang fisikawan Jerman yang bernama Julius Edgar Lilienfeld sudah mempatenkan Transistor jenis Field Effect Transistor di Kanada pada tahun 1925 tetapi Julius Edgar Lilienfeld tidak pernah mempublikasikan hasil penelitiannya baik dalam bentuk tulisan maupun perangkat prototype-nya. Pada tahun 1932, seorang inventor Jerman yang bernama Oskar Heil juga mendaftarkan paten yang hampir sama di Eropa.

    Seiring dengan perkembangannya, transistor pada saat ini telah dirancang telah berbagai jenis desain dengan fitur aliran arus dan pengendali yang unik. Ada jenis Transistor yang berada dalam kondisi OFF hingga terminal Basis diberikan arus listrik untuk dapat berubah menjadi ON sedangkan ada jenis lain yang berada dalam kondisi ON hingga harus diberikan arus listrik pada terminal Basis untuk merubahnya menjadi kondisi OFF. Ada juga Transistor yang membutuhkan arus kecil dan tegangan kecil untuk mengaktifkannya namun ada yang hanya memerlukan tegangan untuk mengoperasikannya. Ada lagi Transistor yang memerlukan tegangan positif untuk memicu pengendalinya di terminal Basis sedangkan ada Transistor yang memerlukan tegangan negatif sebagai pemicunya.

    Transistor memiliki berbagai macam jenis, simbol masing-masing jenis transistor adalah sebagai berikut:

B. Macam-Macam dan Jenis Transistor

    Secara umum, transistor digolongkan menjadi dua keluarga besar, yaitu Transistor Bipolar dan Transistor Efek Medan (Field Effect Transistor / FET). Perbedaan yang paling utama antara transistor bipolar dengan transistor efek medan terletak pada bias input (atau output) yang digunakannya. Transistor Bipolar memerlukan arus untuk mengendalikan terminal lainnya sedangkan Field Effect Transistor (FET) hanya menggunakan tegangan saja (tidak memerlukan arus). Pada pengoperasiannya, Transistor Bipolar memerlukan muatan pembawa (carrier) hole dan elektron sedangkan FET hanya memerlukan salah satunya.

Berikut adalah penjelasan mengenai Transistor Bipolar dan Transistor Efek Medan

1. Transistor Bipolar

    Transistor Bipolar merupakan transistor yang struktur dan prinsip kerjanya memerlukan perpindahan muatan pembawanya yaitu elektron di kutub negatif untuk mengisi kekurangan electon atau hole di kutub positif. Transistor Bipolar juga sering disebut juga dengan singkatan BJT yang kepanjangannya adalah Bipolar Junction Transistor.

Berikut adalah jenis-jenis transistor bipolar beserta penjelasannya:

1. Transistor NPN

    Transistor NPN merupakan transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor. Keping semikonduktor tipe-P pada transistor ini memiliki hole bebas yang tidak ditempati oleh elektron, sedangkan pada keping semikonduktor tipe-N mengandung elektron-elektron valensi bebas yang tidak menempati hole

Cara kerja transistor NPN:
  1. Kutub positif dari sumber tegangan yang pertama dihubungkan ke emitor dan kutub negatifnya dihubungkan ke kolektor
  2. Kutub positif dari sumber tegangan yang kedua dihubungkan ke basis dan kutub negatifnya dihubungkan ke emitor
  3. Elektron-elektron bebas yang berasal dari baterai kedua mengalir ke emitor
  4. Terjadi aliran elektron-elektron dari emitor ke basis
  5. Elektron-elektron saling menempati holes yang ada di basis
  6. Elektron secara bergantian berpindah ke holes sebelahnya hingga melintasi dan keluar dari basis untuk kembali ke baterainya
  7. Elektron yang masih tersisa di dalam basis mengalir ke kolektor dan keluar menuju sumber tegangan yang pertama, sehingga aliran elektron dapat terjadi pada transistor tersebut dan arus listrik dapat dihasilkan
    Dengan mengatur besar kecilnya tegangan sumber tegangan yang kedua, maka kita bisa secara otomatis mengatur besar kecilnya arus listrik yang keluar dari emitornya. Semakin besar sumber tegangan yang kedua, maka makin besar juga arus listrik yang keluar dari emitornya, begitupun sebaliknya.

2. Transistor PNP

    Transistor PNP merupakan transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor. Transistor bipolar PNP sebenarnya merupakan kebalikannya saja dari transistor bipolar NPN. Transistor jenis ini tersusun atas gabungan bahan-bahan semikonduktor dengan menempatkan lapisan tipis keping semikonduktor tipe-N di antara dua lapisan keping semikonduktor tipe-P yang lebih tebal. Berbeda dengan transistor bipolar NPN sebelumnya, transistor bipolar PNP memiliki prinsip kerjanya sendiri.

Cara kerja transistor PNP:
  1. Kutub positif dari sumber tegangan yang pertama dihubungkan ke bagian emitor dan kutub negatif ke bagian basis
  2. Kutub positif dari sumber tegangan yang kedua dihubungkan ke bagian basis dan kutub negatif ke bagian kolektor
  3. Elektron-elektron bebas akan tertampung di basis yang selanjutnya menempati holes yang ada di emitor
  4. Elektron-elektron bebas yang berasal dari sumber tegangan pertama mengalir ke basis
  5. Elektron-elektron bebas melintasi emitor dan kembali ke sumber tegangan yang pertama
  6. Elektron-elektron bebas yang masih tersisa di dalam basis mengalir ke emitor dan keluar menuju kutub positif sumber tegangan yang kedua
    Dengan mengatur besar kecilnya tegangan pada sumber tegangan yang pertama, maka kita bisa secara otomatis mengatur besar kecilnya arus listrik yang keluar dari kolektornya. Semakin besar sumber tegangan yang pertama, maka semakin besar juga arus listrik yang keluar dari kolektornya, begitupun sebaliknya. 

2. Transistor Efek Medan (FET)

    Transistor Efek Medan (FET) adalah transistor yang menggunakan medan listrik untuk mengendalikan konduktivitasnya. Dikatakan Field Effect atau Efek Medan karena pengoperasian transistor jenis ini tergantung pada tegangan (medan listrik) yang terdapat pada input gerbangnya. FET memilki tiga terminal kaki, yaitu Gate (G), Drain (D) dan Source (S).

    FET memiliki fungsi yang hampir sama dengan transistor bipolar pada umumnya. Perbedaannya adalah pada pengendalian arus outputnya. Arus output pada transistor bipolar dikendalikan oleh arus input sedangkan arus output pada FET dikendalikan oleh tegangan input FET. 

    Transistor Efek Medan ini sering disebut juga dengan Unipolar Transistor atau Transistor Eka Kutup, hal ini dikarena FET adalah transistor yang bekerja bergantung dari satu pembawa muatan saja, apakah itu elektron maupun hole. Sedangkan pada transistor bipolar pada umumnya, terdapat dua pembawa muatan yaitu elektron yang membawa muatan negatif dan hole sebagai pembawa muatan positif.

    Transistor jenis FET ini terdiri dari tiga jenis yaitu Junction Field Effect Transistor (JFET), Metal Oxide Semikonductor Field Effect Transistor (MOSFET) dan Uni Junction Transistor (UJT). Berikut adalah penjelasan masing-masing jenis FET

1. Junction FET (JFET)

    JFET (Junction Field Effect Transistor) adalah Transistor Efek Medanyang menggunakan persimpangan (junction) p-n bias terbalik sebagai isolator antara Gerbang (Gate) dan Kanalnya. Cara Kerja JFET pada prinsipnya seperti kran air yang mengatur aliran air pada pipa. Elektron atau hole akan mengalir dari terminal Source (S) ke terminal Drain (D). Arus pada outputnya yaitu Arus Drain (ID) akan sama dengan arus inputnya yaitu Arus Source (IS). Prinsip kerja tersebut sama dengan prinsip kerja sebuah pipa air di rumah kita dengan asumsi tidak ada kebocoran pada pipa air kita.

    Besarnya arus listrik tergantung pada tinggi rendahnya tegangan yang diberikan pada Terminal Gate (G). Fluktuasi tegangan pada terminal Gate (VG) akan menyebabkan perubahan pada arus listrik yang melalui saluran arus Source atau arus Drain. Fluktuasi yang kecil dapat menyebabkan variasi yang cukup besar pada arus aliran pembawa muatan yang melalui JFET tersebut. Dengan demikian terjadi penguatan tegangan pada sebuah rangkaian Elektronika.

    Junction FET atau sering disingkat dengan JFET memiliki dua tipe berdasarkan tipe bahan semikonduktor yang digunakan pada saluran atau kanalnya, yaitu JFET tipe N-Channel (Kanal N) yang terbuat dari bahan Semikonduktor tipe N dan P-Channel (Kanal P) yang terbuat dari Semikonduktor tipe P.

1.1. JFET Kanal N
    Saluran atau Kanal pada jenis ini terbentuk dari bahan semikonduktor tipe N dengan satu ujungnya adalah Source (S) dan satunya lagi adalah Drain (D). Mayoritas pembawa muatan pada JFET jenis Kanal-N ini adalah elektron.

    Gate pada JFET jenis Kanal-N ini terdiri dari bahan semikonduktor tipe P. Bagian lain yang terbuat dari Semikonduktor tipe P pada JFET Kanal-N ini adalah bagian yang disebut dengan Subtrate yaitu bagian yang membentuk batas di sisi saluran berlawanan Gerbang (G).

    Tegangan pada Terminal Gate (G) menghasilkan medan listrik yang mempengaruhi aliran pada pembawa muatan yang melalui saluran tersebut. Semakin negatif nilai VG,  semakin sempit pula salurannya yang akhirnya mengakibatkan semakin kecil arus pada outputnya (ID).

1.2. JFET Kanal N
    Saluran pada JFET jenis Kanal-P terbuat dari Semikonduktor tipe P. Mayoritas pembawa muatannya adalah hole. Bagian Gate (G) dan Subtrate-nya terbuat dari bahan Semikonduktor tipe N.

    Di JFET Kanal-P, semakin positif nilai VG, semakin sempit pula salurannya yang akhirnya mengakibatkan semakin kecilnya arus pada Output JFET (ID).

    Dari Simbolnya, kita dapat membedakan mana yang JFET Kanal-N dan JFET Kanal-P. Anak panah pada simbol JFET Kanal-N adalah menghadap ke dalam sedangkan anak panah pada simbol JFET Kanal-P menghadap keluar.

2. Metal Oxide Semiconduction Field Effect Transistor (MOSFET)

    Transistor Efek Medan yang menggunakan Isolator (biasanya menggunakan Silicon Dioksida atau SiO2) diantara Gerbang (Gate) dan Kanalnya. MOSFET ini juga terdiri dua jenis konfigurasi yaitu MOSFET Depletion dan MOSFET Enhancement. Seperti halnya JFET, Saluran pada MOSFET juga dapat berupa semikonduktor tipe-N ataupun tipe-P. Terminal Gerbangnya adalah sepotong logam yang permukaannya dioksidasi. Lapisan oksidasi ini berfungsi untuk menghambat hubungan listrik antara Terminal Gerbang dengan Salurannya. Oleh karena itu, MOSFET sering juga disebut dengan nama Insulated-Gate FET (IGFET). Karena lapisan oksidasi ini bertindak sebagai dielektrik, maka pada dasarnya tidak akan terjadi aliran arus antara Gerbang dan Saluran. Dengan demikian, nilai Impedansi Input pada MOSFET menjadi sangat tinggi dan jauh melebihi nilai Impedansi Input pada JFET. Pada beberapa jenis MOSFET, nilai Impedansi dapat mencapai Triliunan Ohm. Dalam bahasa Indonesia, MOSFET juga disebut sebagai Transistor Efek Medan Semikonduktor Logam-Oksida.

    Salah kelemahan pada MOSFET adalah tipisnya lapisan oksidasi sehingga sangat rentan rusak karena adanya pembuangan elektrostatik (Electrostatic Discharge).

    Seperti yang disebut sebelumnya, bahwa MOSFET pada dasarnya terdiri dari 2 tipe yaitu MOSFET tipe N dan MOSFET tipe P. Berikut adalah penjelasan mengenai MOSFET tipe N dan MOSFET tipe P:

2.1. MOSFET tipe N

    MOSFET tipe N biasanya disebut dengan NMOSFET atau nMOS. Berikut dibawah ini adalah bentuk struktur dan Simbol MOSFET tipe N.
2.2. MOSFET tipe P

    MOSFET tipe P biasanya disebut dengan PMOSFET atau pMOS. Dibawah ini adalah bentuk struktur dan Simbol MOSFET tipe P.
    Jika dibandingkan dengan Transistor Bipolar, FET memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Salah satu kelebihan FET adalah dapat bekerja dengan baik di rangkaian elektronika yang bersinyal rendah seperti pada perangkat komunikasi dan alat-alat penerima (receiver). FET juga sering digunakan pada rangkaian-rangkaian elektronika yang memerlukan Impedansi yang tinggi. Namun pada umumnya, FET tidak dapat digunakan pada perangkat atau rangkaian Elektronika yang bekerja untuk penguatan daya tinggi seperti pada perangkat Komunikasi berdaya tinggi dan alat-alat Pemancar (Transmitter).

3. Uni Junction Transistor (UJT)

    Uni Junction Transistor (UJT) atau Transistor Sambungan Tunggal adalah transistor FET yang hanya memiliki satu sambungan. Pada umumnya, UJT digunakan sebagai saklar elektronik dan penghasil isyarat pulsa. Berbeda dengan Transistor Bipolar pada umumnya, UJT tidak memiliki Terminal Kolektor. UJT terdiri dari 1 Terminal Emitor (E) dan 2 Terminal Basis (B1 dan B2). Oleh karena itu, Transistor UJT ini sering disebut juga dengan Dioda Berbasis Ganda (Double Base Diode).

Struktur dasar Uni Junction Transistor dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Pada dasarnya, UJT terdiri dari semikonduktor jenis Silikon yang bertipe N yang didoping ringan dan sepotong Silikon bertipe P yang berukuran kecil dengan doping tinggi (berat) di satu sisinya untuk menghasilkan sambungan tunggal P-N (P-N Junction). Sambungan tunggal inilah yang kemudian dijadikan terminologi Uni Junction Transistor. Di kedua ujung batang silikon yang bertipe N, terdapat dua kontak Ohmik yang membentuk terminal B1 (Basis 1) dan (Basis 2). Daerah Semikonduktor yang bertipe P menjadi Terminal Emitor (E) pada UJT tersebut.

Berikut ini adalah Bentuk dan Struktur dasar serta Simbol Uni Junction Transistor (Transistor Sambungan Tunggal).
    Cara kerja Uni Junction Transistor adalah saat tegangan diantara Emitor (E) dan Basis 1 (B1) adalah nol, UJT tidak menghantarkan arus listrik, Semikonduktor batang yang bertipe N akan berfungsi sebagai penghambat (memiliki resistansi yang tinggi). Namun akan ada sedikit arus bocor yang mengalir karena bias terbalik (reverse bias).

    Pada saat tegangan di Emitor (E) dan Basis 1 (B1) dinaikan secara bertahap, resistansi diantara Emitor dan Basis 1 akan berkurang dan arus terbalik (reverse current) juga akan berkurang. Ketika Tegangan Emitor dinaikan hingga ke level bias maju, arus listrik di Emitor akan mengalir. Hal ini dikarenakan hole pada Semikonduktor yang di doping berat bertipe P mulai memasuki daerah semikonduktor tipe N dan bergabung kembali dengan elektron yang di batang semikonduktor bertipe N (yang di doping ringan). Dengan demikian, UJT kemudian mulai menghantarkan arus listrik dari B2 ke B1.

Pada umumnya Uni Junction Transistor atau UJT ini digunakan pada beberapa aplikasi rangkaian elektronika seperti berikut ini:
  • Osilator Relaksasi (Relaxation Oscillator).
  • Rangkaian Saklar Elektronik.
  • Sensor Magnetik flux.
  • Rangkaian Pembatas Tegangan dan Arus listrik.
  • Osilator Bistabil (Bistable oscillators).
  • Rangkaian Regulator Tegangan dan Arus Listrik.
  • Rangkaian Pengendali Fase (Phase control circuits).
C. Konfigurasi Transistor

    Agar transistor dapat menjalankan fungsinya, transistor dapat dikonfigurasi berbeda yang terbagi menjadi tiga jenis yang berfungsi sebagai pembangkit sinyal, penggeseran fasa sinyal dan lain sebagainya. Setiap jenis konfigurasi ini memiliki fungsi yang berbeda sehingga perlu diperhatikan bagi kita yang ingin membuat rangkaian elektronik dengan transistor.

Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis konfigurasi transistor

1. Common Base
    Common Base adalah rangkaian elektronik dengan kaki basis pada transistor yang saling terhubung atau di ground-kan. Dalam hal ini, sinyal input penguat ada pada kaki emitor sedangkan outputnya melalui kolektor. Common Base biasa digunakan pada rangkaian penguat sinyal yang sangat kecil. Konfigurasi ini banyak digunakan pada rangkaian elektronik yang frekuensinya diatas 10MHz dan mengutamakan penguatan tegangannya.

2. Common Collector
    Common Collector adalah rangkaian elektronik dengan kaki kolektor pada transistor yang saling terhubung atau di ground-kan. Dalam hal ini, sinyal input penguat ada pada kaki basis sedangkan outputnya melalui emitor. Pada dasarnya, nilai tegangan antara masukan dan keluaran pada konfigurasi ini relatif sama. Konfigurasi ini memiliki sifat fase sinyal antara input dan output yang terbalik

3. Common Emitter
    Common emitter adalah rangkaian elektronik dengan kaki emitor pada transistor yang saling terhubung atau di ground-kan. Dalam hal ini, sinyal input penguat ada pada kaki basis sedangkan outputnya melalui kolektor. Konfigurasi ini merupakan salah satu yang paling banyak digunakan dibandingkan yang lainnya. Karena pada common emitter akan dapat menguatkan frekuensi dan sinyal yang tinggi.

D. Fungsi Transistor

Transistor memiliki berbagai macam fungsi. Berikut adalah macam-macam fungsi dari transistor.
  1. Sebagai Penguat Arus. Transistor adalah salah satu dari banyaknya rangkaian dari power supply namun dengan tegangan yang telah dikonfigurasi. Untuk dapat difungsikannya, emitor harus mengeluarkan tegangan yang bersifat tetap. Caranya arus pada basis transistor harus dibias tegangan yang konstan. Biasanya cara mudah untuk mendapatkan basis tegangan yang tetap maka harus menggunakan Dioda Zener.
  2. Sebagai Gerbang Logika. Transistor adalah komponen yang juga dapat digunakan sebagai switch untuk dapat berfungsi sebagai gerbang logika. Gerbang logika yang dapat dihasilkan dari transistor adalah: NOT, AND, OR, NAND. Dengan menjadi saklar, maka transistor dapat mengendalikan pergantian arus listrik pada rangkaian elektronik tersebut.
  3. Sebagai Pembangkit Sinyal
  4. Sebagai Saklar
  5. Sebagai komponen penguat amplifier
  6. Sebagai komponen untuk penghubung atau pemutus (switching)
  7. Untuk mengatur stabilitas komponen
  8. Untuk peratas arus
  9. Transistor dapat menahan arus
  10. Dapat menguatkan suatu arus listrik dalam rangkaian
  11. Pembangkit arus frekuensi rendah atau tinggi
E. Cara Mengukur Transistor Menggunakan Multimeter

    Kita dapat menggunakan Multimeter Analog maupun Multimeter Digital untuk mengukur ataupun menguji apakah sebuah transistor masih dalam kondisi yang baik. Perlu diingatkan bahwa terdapat perbedaan tata letak Polaritas (Merah dan Hitam) Probe Multimeter Analog dan Multimeter Digital dalam mengukur/menguji sebuah Transistor.

Berikut ini adalah Cara untuk menguji atau mengukur Transistor dengan Mengunakan Multimeter Analog dan Multimeter Digital.

1. Mengukur Transistor dengan Multimeter Analog
Cara Mengukur Transistor PNP dengan Multimeter Analog
  1. Atur Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x10k
  2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Basis (B) dan Probe Hitam pada Terminal Emitor (E), Jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
  3. Pindahkan Probe Hitam pada Terminal Kolektor (C), jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Cara Mengukur Transistor NPN dengan Multimeter Analog
  1. Atur Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x10k
  2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Basis (B) dan Probe Merah pada Terminal Emitor (E), Jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
  3. Pindahkan Probe Merah pada Terminal Kolektor (C), jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Catatan :
Jika Tata letak Probe dibalikan dari cara yang disebutkan diatas, maka Jarum pada Multimeter Analog harus tidak akan bergerak sama sekali atau “Open”.

2. Mengukur Transistor dengan Multimeter Digital
Cara Mengukur Transistor PNP dengan Multimeter Digital
  1. Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
  2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Basis (B) dan Probe Merah pada Terminal Emitor (E), Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
  3. Pindahkan Probe Merah pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Cara Mengukur Transistor NPN dengan Multimeter Digital
  1. Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
  2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Basis (B) dan Probe Hitam pada Terminal Emitor (E), Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
  3. Pindahkan Probe Hitam pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Catatan :
Jika Tata letak Probe dibalikan dari cara yang disebutkan diatas, maka Display Multimeter Digital harus tidak akan menunjukan Nilai Voltage atau “Open”

E. Cara Menguji / Mengukur Uni Junction Transistor (UJT) dengan Menggunakan Multimeter

    Untuk mengukur apakah sebuah UJT dapat berfungsi dengan baik, kita dapat menggunakan alat ukur Multimeter dengan pilihan pengujian Resistansi. Berikut dibawah ini adalah 3 langkah mudah untuk mengukur Uni Junction Transistor (UJT)

1. Cara Mengukur Resistansi antara Terminal B1 dan B2 UJT

    Berikut adalah cara mengukur resistansi antara Terminal Basis1 (B1) dan Basis (B2) Uni Junction Transistor (UJT).
  1. Atur Posisi Sakelar Multimeter ke R atau Ohm (Ω).
  2. Hubungkan Probe Merah (+) Multimeter ke Terminal Basis 1 (B1) UJT.
  3. Hubungkan Probe Hitam (-) Multimeter ke Terminal Basis 2 (B2) UJT.
  4. Layar Multimeter akan menunjukkan nilai resistansi (nilai hambatan) yang tinggi, yaitu sekitar 4kΩ hingga 10kΩ. Kondisi tersebut menandakan UJT dalam keadaan baik.
  5. Lepaskan kedua Probe Multimeter tersebut dari Terminal UJT.
  6. Hubungkan lagi Probe Merah (+) Multimeter pada Terminal Basis 2 (B2) UJT.
  7. Hubungkan lagi Probe Hitam (-) Multimeter pada Terminal Basis 1 (B1) UJT.
  8. Layar Multimeter akan menunjukan nilai Resistansi yang tinggi, yaitu sekitar 4kΩ hingga 10kΩ. Kondisi tersebut menandakan UJT dalam keadaan baik.
Catatan : Dengan cara pengukuran/pengujian diatas, apabila layar multimeter menunjukan nilai resistansi yang sangat rendah ataupun nol, maka UJT tersebut dinyatakan rusak atau short (hubung pendek).

2. Cara Mengukur Bias Terbalik pada Persimpangan Emitor UJT

Berikut adalah cara mengukur bias terbalik pada Persimpangan Emitor UJT.
  1. Atur Posisi Sakelar Multimeter ke R atau Ohm (Ω).
  2. Hubungkan Probe Hitam (-) Multimeter ke Terminal Emitor (E) UJT.
  3. Hubungkan Probe Merah (+) Multimeter ke Terminal Basis 1 (B1) UJT.
  4. Layar Multimeter akan menunjukan nilai resistansi yang sangat tinggi yaitu lebih dari 100kΩ. Kondisi ini menandakan UJT dalam keadaan baik.
  5. Pindahkan Probe Merah (+) Multimeter ke Terminal Basis 2 (B2) UJT. Probe Hitam (-) Multimeter tetap pada Terminal Emitor (E) UJT.
  6. Layar Multimeter akan tetap menunjukan nilai Resistansi yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 100kΩ.
Catatan : Dengan cara pengukuran/pengujian bias terbalik di atas, apabila layar multimeter menunjukan nilai resistansi yang sangat rendah ataupun nol, maka UJT tersebut dinyatakan rusak atau short (hubung pendek).

2. Cara Mengukur Bias Maju pada Persimpangan Emitor UJT

Berikut adalah cara mengukur bias maju pada Persimpangan Emitor UJT.
  1. Atur Posisi Sakelar Multimeter ke R atau Ohm (Ω).
  2. Hubungkan Probe Merah (+) Multimeter ke Terminal Emitor (E) UJT.
  3. Hubungkan Probe Hitam (-) Multimeter ke Terminal Basis 1 (B1) UJT.
  4. Layar Multimeter akan menunjukan nilai resistansi yang sangat rendah, yaitu kurang dari 100Ω. Kondisi tersebut menandakan UJT dalam keadaan Baik.
  5. Pindahkan Probe Hitam (-) Multimeter ke Terminal Basis 2 (B2) UJT. Probe Merah (+) Multimeter tetap terhubung pada Terminal Emitor (E) UJT.
  6. Layar Multimeter akan menunjukan nilai resistansi yang sangat rendah yaitu dibawah 100Ω. Kondisi ini menandakan UJT dalam Keadaan Baik.
Catatan : Dengan cara pengukuran/pengujian bias maju diatas, apabila layar Multimeter menunjukkan nilai resistansi yang sangat tinggi, maka UJT tersebut dapat dinyatakan rusak atau putus.

Saya rasa sekian mengenai materi Transistor di blog saya kali ini. Semoga para pembaca cukup puas. Apabila ada kekurangan saya mohon maaf. Terima kasih
    
Sumber Referensi:
1. Blog Ruangguru. (2020). Fisika Kelas 12 | Transistor: Si Kecil Pendobrak Zaman. Diakses pada 30 November 2020 dari https://blog.ruangguru.com/transistor
2. Sinaupedia. (2020). Pengertian Transistor. Diakses pada 30 November 2020 dari https://sinaupedia.com/pengertian-transistor
3. teknikelektronika.com. (2014). Fungsi Transistor dan Cara Mengukurnya. Diakses pada 30 November 2020 dari https://teknikelektronika.com/fungsi-transistor-cara-mengukur-transistor/
4. teknikelektronika,com. (2016). Pengertian Uni Junction Transistor (UJT) dan Cara Kerjanya. Diakses pada 30 November 2020 dari https://teknikelektronika.com/pengertian-uni-junction-transistor-ujt-dan-cara-kerjanya/
5. teknikelektronika.com. (2016). Cara Mengukur Uni Junction Transistor (UJT) dengan Multimeter. Diakses pada 30 November 2020 dari https://teknikelektronika.com/cara-mengukur-uni-junction-transistor-ujt-dengan-multimeter/
6. teknikelektronika.com. (2017). Pengertian Transistor dan Jenis-jenis Transistor. Diakses pada 30 November 2020 dari https://teknikelektronika.com/pengertian-transistor-jenis-jenis-transistor/
7. teknikelektronika.com. (2017). Pengertian Field Effect Transistor (FET) dan Jenis-jenisnya. Diakses pada 30 November 2020 dari https://teknikelektronika.com/pengertian-field-effect-transistor-fet-dan-jenis-jenisnya/  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan UNS sebagai Kampus Benteng dan Pelopor Pancasila

Dioda