Dioda

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas materi Dioda. Semoga bermanfaat

A. Pengertian Dioda

    Dioda merupakan salah satu komponen elektronik yang bersifat aktif dan berbahan/bersifat semikonduktor. Dioda mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah (memiliki hambatan arus rendah, idealnya bernilai nol) tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya (memiliki hambatan arus sangat tinggi, idealnya bernilai tak terhingga). Oleh karena itu, dioda sering digunakan sebagai penyearah arus dalam rangkaian listrik. Pada umumnya, dioda mempunyai dua elektrode (terminal) yaitu anode (+) dan katode (-) dan memiliki prinsip kerja yang berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor, yaitu dapat mengalirkan arus dari sisi tipe-p (anode) menuju ke sisi tipe-n katode) tetapi tidak dapat mengalirkan arus ke arah sebaliknya. 

Dalam rangkaian listrik, dioda dinyatakan dalam simbol:

B. Komponen Dioda


   
    Struktur utama dioda adalah dua buah kutub elektrode berbahan konduktor yang masing-masing terhubung dengan semikonduktor jenis p dan jenis n. Anode adalah elektrode yang terhubung dengan semikonduktor jenis p dimana elektron yang terkandung lebih sedikit, dan katode adalah elektrode yang terhubung dengan semikonduktor jenis n dimana elektron yang terkandung lebih banyak. Pertemuan antara jenis n dan jenis p akan membentuk suatu perbatasan yang disebut P-N Junction.

    Material semikonduktor yang digunakan umumnya berupa silikon atau germanium. Adapun semikonduktor jenis p diciptakan dengan menambahkan material yang memiliki elektron valensi kurang dari 4 (Contoh: Boron) dan semikonduktor jenis n diciptakan dengan menambahkan material yang memiliki elektro valensi lebih dari 4 (Contoh: Fosfor)

C. Cara Kerja Dioda

    Cara kerja dioda dapat dijelaskan dalam tiga kondisi, yaitu kondisi tanpa tegangan, diberikan tegangan positif (forward bias / bias maju) dan diberikan tegangan negatif (reverse bias / bias balik). Berikut adalah penjelasan mengenai cara kerja dioda

1. Kondisi Tanpa Tegangan

    Pada kondisi tidak diberikan tegangan akan terbentuk suatu perbatasan medan listrik pada daerah P-N junction. Hal ini terjadi diawali dengan proses difusi, yaitu bergeraknya muatan elektron dari sisi n ke sisi p. Elektron-elektron tersebut akan menempati suatu tempat di sisi p yang disebut dengan holes. Pergerakan elektron-elektron tersebut akan meninggalkan ion positif di sisi n, dan holes yang terisi dengan elektron akan menimbulkan ion negatif di sisi p. Ion-ion tidak bergerak ini akan membentuk medan listrik statis yang menjadi penghalang pergerakan elektron pada dioda


2. Kondisi tegangan positif (Forward-bias / bias maju)

    Pada kondisi ini, bagian anode disambungkan dengan terminal positif sumber listrik dan bagian katode disambungkan dengan terminal negatif. Adanya tegangan eksternal akan mengakibatkan ion-ion yang menjadi penghalang aliran listrik menjadi tertarik ke masing-masing kutub. Ion-ion negatif akan tertarik ke sisi anode yang positif, dan ion-ion positif akan tertarik ke sisi katode yang negatif. Hilangnya penghalang-penghalang tersebut akan memungkinkan pergerakan elektron di dalam dioda, sehingga arus listrik dapat mengalir seperti pada rangkaian tertutup.


3. Kondisi tegangan negatif (Reverse-bias / bias balik)

    Pada kondisi ini, bagian anode disambungkan dengan terminal negatif sumber listrik dan bagian katode disambungkan dengan terminal positif. Adanya tegangan eksternal akan mengakibatkan ion-ion yang menjadi penghalang aliran listrik menjadi tertarik ke masing-masing kutub. Pemberian tegangan negatif akan membuat ion-ion negatif tertarik ke sisi katode (n-type) yang diberi tegangan positif, dan ion-ion positif tertarik ke sisi anode (p-type) yang diberi tegangan negatif. Pergerakan ion-ion tersebut searah dengan medan listrik statis yang menghalangi pergerakan elektron, sehingga penghalang tersebut akan semakin tebal oleh ion-ion. Akibatnya, listrik tidak dapat mengalir melalui dioda dan rangkaian diibaratkan menjadi rangkaian terbuka.

D. Jenis-Jenis Dioda dan Fungsinya

    Dioda memiliki bermacam-macam jenis dan tiap jenis memiliki fungsinya sendiri, berikut adalah contoh jenis-jenis dioda beserta fungsinya

1. Dioda Penyearah 


    Dioda penyearah berfungsi sebagai penyearah arus AC ke DC. Fungsi dioda penyearah selain sebagai penyearah arus adalah sebagai sensor suhu, sebagai penurun tegangan dan sebagai pengaman polaritas

Simbol dioda penyearah adalah:
2. Dioda PN Junction


    Dioda PN Junction merupakan dioda standar yang terdiri dari susunan PN dan memiliki cara kerja seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dioda jenis ini adalah diode yang umum digunakan di pasaran (disebut juga diode generik), digunakan terutama sebagai penyearah arus

3. Dioda Bridge


    Dioda Bridge merupakan jenis dioda yang berisi empat buah dioda yang berfungsi untuk mengatur arah polaritas DC yang keluar dari kaki DC supaya tidak terjadi pembalikan fase, saat sumber arus listrik AC dibalik atau ditukar.

    Di dalam sebuah Dioda Bridge, ada empat buah terminal diantaranya yaitu dua buah terminal AC sebagai input sumber arus. Sedangkan, dua kaki lainnya yaitu arus DC positif dan negatif

4. Dioda Zener

    Dioda Zener adalah jenis dioda yang dirancang khusus untuk dapat beroperasi di rangkaian bias balik. Pada saat dipasangkan pada rangkaian bias maju, dioda zener akan memiliki karakteristik dan fungsi sebagaimana dioda normal pada umumnya.

    Pada dasarnya, dioda zener akan menyalurkan arus listrik yang mengalir ke arah yang berlawanan jika tegangan yang diberikan melampaui batas “breakdown voltage” atau tegangan tembus dioda zenernya. Karakteristik ini berbeda dengan dioda biasa yang hanya dapat menyalurkan arus listrik ke satu arah. Tegangan tembus juga disebut sebagai tegangan zener. Tegangan yang melewati dioda zener akan bernilai sama dengan tegangan zenernya, tidak peduli berapapun nilai tegangan input yang diberikan (dengan catatan tegangan input lebih besar dibanding tegangan zener). Oleh karena itu, dioda zener merupakan komponen elektronika yang cocok untuk digunakan sebagai pengatur tegangan, dioda zener akan memberikan tegangan tetap dan sesuai dengan tegangan zenernya terhadap tegangan input yang diberikan.

Untuk menghitung arus yang melewati rangkaian dioda zener, dapat menggunakan persamaan berikut:
I = (Vinput - Vzener) / R

Keterangan:
I = Arus Listrik (Ampere)
Vinput = Tegangan Input (Volt)
Vzener = Tegangan Zener (Volt)
R = Nilai hambatan (Ohm)

Untuk menghitung disipasi daya pada dioda zener, dapat menggunakan persamaan berikut:
P = Vz * I

Keterangan:
P = Daya (Watt)
Vz = Tegangan Zener (Volt)
I = Kuat Arus (Ampere)

Simbol dioda zener adalah:






5. Light Emitting Diode (LED)

    Light Emitting Diode (LED) adalah jenis dioda yang dapat memancarkan cahaya monokromatik (cahaya satu warna) saat diberi tegangan positif (forward bias / bias maju). Warna-warna cahaya yang dipancarkan oleh LED bergantung pada jenis bahan semikonduktor yang digunakan. LED juga dapat memancarkan sinar inframerah yang tidak tampak oleh mata seperti yang sering kita jumpai pada Remote Control TV ataupun Remote Control perangkat elektronik lainnya. Berbeda dengan lampu pijar, LED tidak memerlukan pembakaran filamen sehingga tidak menimbulkan panas dalam menghasilkan cahaya

    Cara kerjanya adalah LED hanya akan memancarkan cahaya apabila dialiri tegangan maju (bias forward / bias maju) dari anode menuju ke katode. Ketika LED dialiri tegangan maju atau bias forward yaitu dari anode (+) menuju ke katode (-), Kelebihan elektron pada N-Type material akan berpindah ke wilayah yang kelebihan hole (lubang) yaitu wilayah yang bermuatan positif (P-Type material). Saat elektron berjumpa dengan hole akan melepaskan foton dan memancarkan cahaya monokromatik


    Cara mengetahui polaritas LED cukup mudah. Kaki LED yang lebih panjang merupakan terminal anode (+) sedangkan kaki LED yang lebih pendek merupakan terminal katode (-). Kegunaan LED dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai lampu penerangan rumah, lampu penerangan jalan, lampu indikator dan pemancar inframerah

Simbol LED adalah:





6. Dioda Laser

    Dioda laser adalah jenis dioda yang dapat menghasilkan radiasi koheren yang dapat dilihat oleh mata ataupun dalam bentuk spektrum inframmerah ketika dialiri arus listrik. Radiasi Koheren adalah radiasi dimana semua gelombang berasal dari satu sumber yang sama dan berada pada frekuensi dan fasa yang sama juga

    Dioda laser memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan laser konvensional, kelebihan tersebut antara lain lebih kecil dan ringan, membutuhkan arus listrik dan tegangan yang rendah, memiliki intensitas yang rendah dan sudut beam yang lebar.

    Cara kerja dioda laser hampir sama dengan lampu LED, yaitu dapat mengkonversi energi listrik menjadi energi cahaya. Namun, dioda laser dapat menghasilkan sinar/cahaya atau beam dengan intensitas yang lebih tinggi.

Berdasarkan cara kerjanya, dioda laser dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Injection Laser Diode (ILD)

    Cara kerja Injection Laser Diode memiliki berbagai kemiripan dengan LED (Light Emitting Diode). Perbedaan utama pada dioda laser adalah adanya sebuah saluran atau kanal panjang yang sempit dengan ujung yang reflektif. kanal tersebut berfungsi sebagai penuntun gelombang pada cahaya. kanal tersebut biasanya disebRemote Controlut dengan waveguide.

    Pada pengoperasiannya, arus mengalir melalui PN Junction dan menghasilkan cahaya seperti pada LED. Pancaran fotonnya disebabkan oleh bergabungnya kembali elektron dan holes di daerah PN Junction. Namun, cahaya tersebut hanya dibatasi di dalam waveguide pada dioda laser sendiri. Di waveguide ini, cahaya laser direfleksikan dan kemudian diperkuat sehingga menghasilkan emisi terstimulasi sebelum dipancar keluar.

2. Optically Pumped Semiconductor Laser
    Optically Pumped Semiconductor Laser (OPSL) menggunakan chip semikonduktor III-V sebagai dasarnya, chip semikonduktor ini bekerja sebagai media penguat optik. Dioda laser yang terdapat di dalamnya berfungsi sebagai sumber pompa. Terdapat beberapa keuntungan dari dioda laser jenis OPSL ini, terutama dalam pemilihan panjang gelombang dan mengurangi gangguan dari struktur elektrode internal

    Dioda laser banyak diaplikasikan pada perangkat yang digunakan sehari-sehari, perangkat yang menggunakan dioda laser contohnya CD/VCD/DVD/Blu-ray Player, Konsol Games, Laser Pointer, Barcode Scanner, Sistem Fiber Optik, Laser Printer, Remote Control, dan lain-lain

7. Dioda Foto (Photodiode)

    Dioda Foto adalah jenis dioda yang dapat mengubah cahaya menjadi arus listrik. Dioda Foto memiliki dua kaki terminal yaitu kaki terminal latode dan kaki terminal anode layaknya dioda pada umumnya, bedanya adalah dioda foto memiliki lensa dan filter optik yang terpasang di permukaannya sebagai pendeteksi cahaya. Dioda Foto dapat mendeteksi berbagai macam cahaya seperti inframerah, cahaya matahari, cahaya tampak, sinar ultraviolet dan sinar X. Oleh karena itu, Dioda Foto banyak diaplikasikan ke berbagai perangkat elektronik seperti penghitung kendaraan, sensor cahaya kamera, alat-alat medis, scanner barcode dan peralatan keamanan.

    Bahan semikonduktor yang biasanya digunakan sebagai bahan dasar dioda foto adalah Silikon (Si), Germanium (Ge), Indium gallium arsenide phosphide (InGaAsP), Indium gallium arsenide (InGaAs).
  • Silikon (Si) : arus gelap rendah, berkecepatan tinggi, sensitivitas baik di jarak sekitar 400nm hingga 1000nm (terbaik di jarak 800nm – 900nm)
  • Germanium (Ge) : arus gelap lebih tinggi, berkecepatan rendah, sensitivitas baik di jarak sekitar 900nm – 1600nm (terbaik di jarak 1400nm – 1500nm)
  • Indium gallium arsenide phosphide (InGaAsP) : mahal, arus gelap rendah, berkecepatan tinggi, sensitivitas baik di jarak sekitar 1000nm – 1350nm (terbaik di jarak 1100nm – 1300nm)
  • Indium gallium arsenide (InGaAs) : mahal, arus gelap rendah, berkecepatan tinggi, sensitivitas baik di jarak sekitar 900nm – 1700nm (terbaik di jarak 1300nm – 1600nm)
    Dioda Foto terdiri dari satu lapisan tipis semikonduktor tipe-N yang memiliki banyak elektron dan satu lapisan tebal semikonduktor tipe-P yang memiliki banyak hole. Lapisan semikonduktor tipe-N adalah katode sedangkan lapisan semikonduktor tipe-P adalah anode.

    Saat dioda foto terkena cahaya, foton yang merupakan partikel terkecil cahaya akan  menembus lapisan semikonduktor tipe-N dan memasuki lapisan semikonduktor tipe-P. Foton-foton tersebut kemudian akan bertabrakan dengan elektron-elektron yang terikat sehingga elektron tersebut terpisah dari intinya dan menyebabkan terjadinya hole. Elektron terpisah akibat tabrakan dan berada dekat PN Junction akan menyeberangi persimpangan tersebut ke wilayah semikonduktor tipe-N. Hasilnya, elektron akan bertambah di sisi semikonduktor N sedangkan sisi semikonduktor P akan kelebihan hole. Pemisahan muatan positif dan negatif ini menyebabkan perbedaan potensial pada PN Junction. Ketika dihubungkan dengan sebuah beban ataupun kabel ke katode (sisi semikonduktor N) dan anode (sisi semikonduktor P), maka akan terjadi aliran arus listrik yang mengalir dari katode ke anode

Dioda foto memiliki dua model pengoperasian, yaitu:

1. Model Photovoltaic

    Seperti sel surya, dioda foto juga dapat menghasilkan tegangan yang dapat diukur. Namun, tegangan dan arus listrik yang dihasilkannya sangat kecil dan tidak cukup untuk menyalakan sebuah lampu maupun perangkat elektronik.

2. Model Photoconductive

    Karena tidak dapat menghasilkan arus listrik yang cukup untuk kebutuhan rangkaian elektronik, maka biasanya dioda foto digabungkan dengan sumber tegangan yang dipasangkan secara bias terbalik. Model Photoconductive ini menggunakan sumber tegangan lain sebagai penggerak beban atau rangkaian elektronik, sedangkan dioda foto sendiri berfungsi sebagai saklar yang mengalirkan arus listrik ketika dikenakan cahaya.

8. Dioda Gunn

    Dioda Gunn adalah jenis dioda yang tidak memiliki PN Junction, melainkan hanya terdiri dari dua elektroda. Dioda jenis ini dapat digunakan untuk menghasilkan sinyal gelombang mikro

9. Dioda BARITT (Barrier Injection Transit Time)

    Dioda BARITT adalah jenis dioda yang bekerja dengan prinsip emisi termionik. Dioda ini digunakan untuk memproduksi sinyal gelombang mikro dengan level derau yang rendah

10. Dioda Tunnel


    Dioda Tunnel adalah jenis dioda yang memiliki kemampuan untuk beroperasi dengan kecepatan yang sangat tinggi dan dapat berfungsi dengan baik pada gelombang mikro sehingga dimungkinkan untuk penggunaan pada Efek Mekanika Kuantum yang disebut dengan Tunneling. Dioda Tunnel atau Dioda Terowongan biasanya dibuat dari Germanium, Gallium Arsenide atau Gallium Antimonide

    Dua terminal P-N Junction pada Dioda Tunnel didoping berat yaitu sekitar 1000 kali lebih besar dari dioda pada umumnya. Karena doping berat ini, lebar lapisan deplesi dipersempit/dipertipis menjadi nilai yang sangat kecil hingga pada 1/10.000 m. Dengan demikian, reverse breakdown voltage (tegangan jatuh mundur) dioda tunnel juga menjadi sangat kecil hingga mendekati nilai “0” sehingga mengakibatkan resistansi negatif pada saat dioda tunnel diberikan tegangan bias maju. Fenomena ini disebut dengan Resonant Tunneling

    Dari gambar karakteristik diatas terlihat bahwa ketika tegangan bias maju kecil diberikan ke dioda tunnel, arus ikut meningkat. Seiring dengan bertambahnya tegangan bias maju, arus meningkat mencapai nilai tertingginya atau puncak arus (Ip). Namun, ketika tegangan meningkat lagi sedikit pada nilai tertentu, arus berubah menjadi menurun hingga titik terendahnya atau disebut dengan arus lembah (Iv). Apabila tegangan yang diberikan meningkat lebih lanjut lagi, maka arus pada dioda tunnel akan mulai meningkat lagi.

    Tegangan bias maju yang diperlukan untuk menggerakan dioda tunnel ke puncak arus dan kemudian menurun menuju ke lembah arus disebut sebagai Tegangan Puncak (Vp) sedangkan tegangan pada lembah itu sendiri disebut dengan Tegangan Lembah (Vv). Wilayah dimana arus mulai menurun dari Ip ke Iv pada saat diberikan tegangan maju ini disebuh dengan wilayah resistansi negatif.

    Tunnel junction digunakan sebagai salah satu komponen pada osilator, penguat, atau pencampur sinyal, terutama karena kecepatannya bereaksi terhadap perubahan tegangan.

11. Dioda Backward

    Dioda Backward memiliki karakteristik serupa dengan dioda tunnel, perbedaannya terletak pada adanya sisi yang diberi doping lebih rendah dibanding sisi yang berlawanan. Perbedaan profil doping ini membuat dioda backward memiliki karakteristik tegangan-arus yang serupa pada kondisi bias balik dan bias maju

12. Dioda PIN

    Dioda PIN adalah jenis dioda dengan daerah semikonduktor intrinsik (tanpa doping) yang lebar antara PN Junction. Efek dari penambahan area intrinsik tersebut adalah melebarnya area deplesi yang membatasi pergerakan elektron dan hal ini tepat digunakan untuk aplikasi pensinyalan (switching)

13. Dioda Schottky


    Dioda Schottky adalah jenis dioda dengan tegangan jatuh yang rendah jika dibandingkan dengan dioda normal lainnya. Perbedaan yang paling mendasar antara Dioda Schottky dengan dioda normal adalah penggunaan Logam-Semikonduktor (Metal-Semiconductor Junction) untuk persimpangan Dioda Schottky sedangkan dioda normal pada umumnya menggunakan P-N Junction. Dioda Schottky biasanya digunakan pada rangkaian switching berkecepatan tinggi, rangkaian Frekuensi Radio, Mixer dan rangkaian Penyearah Pencatu Daya (Power Supply)

    Prinsip kerja Dioda Schottky adalah pada saat Dioda Schottky dalam kondisi tanpa tegangan, tingkat energi elektron yang berada di sisi semikonduktor tipe-n sangat rendah jika dibandingkan dengan tingkat energi di sisi logam. Dengan demikian, elektron tidak dapat mengalir melalui penghalang persimpangan (penghalang schottky). Namun, apabila Dioda Schottky diberikan tegangan bias maju, elektron di sisi semikonduktor tipe-n akan mendapat energi yang cukup untuk melewati penghalang persimpangan dan masuk ke wilayah logam. Elektron ini masuk ke dalam wilayah logam dengan energi yang sangat besar sehingga disebut juga elektron pembawa panas (hot carrier). Oleh karena itu, Dioda Schottky juga sering disebut sebagai Dioda Pembawa Panas

    Arus listrik akan mengalir melalui Dioda Schottky secara bias maju apabila terdapat tegangan maju yang cukup diberikan ke Dioda Schottky. Karena aliran arus listrik ini, akan terjadi kehilangan tegangan kecil pada saat melintasi terminal dioda Schottky, kehilangan tegangan inilah yang disebut dengan “drop voltage”. Kehilangan Tegangan atau Drop Voltage pada Dioda Silikon (dioda normal) biasanya adalah sekitar 0,6V hingga 0,7V, sementara drop voltage pada Dioda Schottky hanya sekitar 0,2V hingga 0,3V. Hal ini berarti Dioda Schottky mengonsumsi tegangan yang lebih kecil dari dioda normal pada umumnya

    Dioda Schottky memiliki karakteristik bisa dinyalakan (switch ON) dan dimatikan (switch OFF) lebih cepat serta tidak menghasilkan noise yang berlebihan (noise yang tidak diinginkan) dibandingkan dengan dioda normal yang menggunakan persimpangan PN. Hal ini menjadikan Dioda Schottky cocok untuk diaplikasikan ke rangkaian yang memerlukan switching ON/OFF berkecepatan tinggi.

14. Dioda Step Recovery

    Bagian semikonduktor pada dioda ini memiliki level doping yang secara gradual menurun dengan titik terendah di junction. Modifikasi ini dapat mengurangi waktu switching karena muatan yang ada pada daerah junction lebih sedikit. Aplaikasi dari semikonduktor ini adalah pada alat-alat elektronik frekuensi radio

15. Dioda Varactor (Varicap)


    Dioda Varactor adalah jenis dioda yang mempunyai sifat kapasitas berubah-ubah sesuai dengan tegangan yang diberikannya. Sesuai dengan sifatnya ini, Dioda Varactor juga disebut dengan Dioda Kapasitas Variabel atau Varicap Diode (Variable Capacitance Diode). Dioda Varactor pada umumnya digunakan pada rangkaian yang berkaitan dengan Frekuensi seperti pada rangkaian VCO (Voltage Controlled Oscillator), VFO (Variable Frequency Oscillator), RF Filter (Tapis Frekuensi Radio), PLL Oscilator (Phase-Locked Loop Oscillator), Tuner Radio dan Tuner Televisi. Rangkaian-rangkaian Elektronika ini dapat ditemukan pada perangkat-perangkat Elektronika seperti Ponsel, Radio Penerima, Radio Pemancar dan Televisi. Dioda Varactor pada umumnya terbuat dari bahan Semikonduktor Silikon dengan Sambungan PN yang dirancang khusus untuk memiliki sifat kapasitansi pada rangkaian bias balik (reverse bias) seperti Dioda Zener

    Prinsip kerja Dioda Varactor adalah terminal katode dihubungkan ke tegangan positif dan terminal anode dihubungkan ke tegangan negatif. Apabila terjadi perubahan beda potensial diantara terminal katode dan anode yang melebihi tegangan tembus Dioda Varactor,  maka daerah deplesi pada sambungan semikonduktor tipe P dan tipe N dalam Dioda Varaktor tersebut akan terjadi perubahan lebar. Semakin tinggi tegangan terbalik yang diberikan pada Dioda Varaktor, maka daerah deplesi pada sambungan semikonduktor tersebut akan semakin lebar, hal ini mengakibatkan nilai kapasitansi akan semakin rendah. Sebaliknya, jika Dioda Varaktor menerima tegangan terbalik yang rendah, maka deplesi akan menyempit sehingga nilai kapasitansi menjadi lebih tinggi.

E. Cara Mengukur Dioda Dengan Multimeter

    Untuk mengetahui apakah sebuah Dioda dapat bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya, maka diperlukan pengukuran terhadap Dioda tersebut dengan menggunakan Multimeter (AVO Meter)

1. Cara Mengukur Dioda Menggunakan Multimeter Analog

    Multimeter analog adalah perangkat sederhana yang digunakan untuk mengukur hambatan, tegangan atau kuat arus listrik. Oleh karena itu, multimeter analog disebut juga dengan AVO Meter (Ampere, Voltage dan Ohms). Di dalam multimeter analog, terdapat magnet permanen yang menggerakan coil (Galvanometer) yang terhubung ke poros penunjuk (jarum sebagai penunjuk skala analog). Trimmer (sebagai kombinasi dari resistor) digunakan untuk mengukur arus di dalamnya. Defleksi pointer menunjukkan nilai kuantitas pengukuran yang tertera pada layar

Cara mengukur dioda menggunakan multimeter analog adalah sebagai berikut:
  1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x100
  2. Hubungkan Probe Merah pada terminal katode (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Hitam pada terminal anode.
  4. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
  5. Jarum pada Display Multimeter harus bergerak ke kanan
  6. Balikan Probe Merah ke Terminal Anoda dan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang).
  7. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
  8. Jarum seharusnya tidak bergerak. Jika jarum bergerak, maka dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak

2. Cara Mengukur Dioda Menggunakan Multimeter Digital

    Multimeter digital adalah perangkat yang digunakan untuk mengukur beberapa jumlah listrik seperti arus, tegangan, tahanan, kapasitansi, nilai-nilai dioda, transistor, dan sebagainya.

Cara Mengukur Dioda dengan menggunakan Multimeter Digitaladalah sebagai berikut:
  1. Atur posisi saklar pada posisi dioda
  2. Hubungkan Probe Hitam pada terminal katode (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Merah pada terminal anode
  4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  5. Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0,42 V)
  6. Balikan Probe Hitam ke terminal anode dan Probe Merah ke katode
  7. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  8. Pada Display Multimeter, seharusnya tidak ada nilai tegangan. Jika terdapat nilai tertentu, maka dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak.
Catatan penting: Cara mengukur dioda dengan menggunakan multimeter analog dan multimeter digital adalah terbalik. Perhatikan Posisi Probe Merah (+) dan Probe Hitamnya (-).

Saya rasa sekian postingan mengenai materi Dioda di blog saya kali ini. Semoga para pembaca cukup puas. Apabila ada kekurangan, saya mohon maaf. Terima kasih

Sumber Referensi:
teknikelektronika.com. (2014). Fungsi Dioda dan Cara Mengukurnya. Diakses pada 23 November 2020, dari https://teknikelektronika.com/fungsi-dioda-cara-mengukur-dioda/
studiobelajar.com. (2020). Dioda. Diakses pada 23 November 2020, dari https://www.studiobelajar.com/dioda/
teknikelektronika.com. (2014). Pengertian dan Fungsi Dioda Zener. Diakses pada 23 November 2020, dari https://teknikelektronika.com/pengertian-fungsi-dioda-zener/
teknikelektronika.com. (2014). Pengertian LED (Light Emitting Diode) dan Cara Kerjanya. Diakses pada 23 November 2020 dari https://teknikelektronika.com/pengertian-led-light-emitting-diode-cara-kerja/
teknikelektronika.com. (2016). Pengertian Dioda Laser dan Aplikasinya. Diakses pada 23 November 2020, dari https://teknikelektronika.com/pengertian-dioda-laser-aplikasi-simbol-laser-diode
teknikelektronika.com. (2017). Pengertian Photodiode (Dioda Foto) dan Prinsip kerjanya. Diakses pada 23 November 2020, dari https://teknikelektronika.com/pengertian-photodiode-dioda-foto-prinsip-kerja-photodiode/
teknikelektronika.com. (2016). Pengertian Dioda Tunnel dan Karakteristiknya. Diakses pada 23 November 2020, dari https://teknikelektronika.com/pengertian-dioda-tunnel-karakteristik-dioda-tunnel
teknikelektronika.com. (2017). Pengertian Dioda Schottky dan Prinsip Kerjanya. Diakses pada 23 November 2020, dari https://teknikelektronika.com/pengertian-dioda-schottky-prinsip-kerja-schottky-diode/
teknikelektronika.com. (2015). Pengertian Dioda Varactor (Varicap) dan Prinsip Kerja Dioda Varactor. Diakses pada 23 November 2020, dari https://teknikelektronika.com/prinsip-kerja-pengertian-dioda-varactor-varicap/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan UNS sebagai Kampus Benteng dan Pelopor Pancasila